Jumat, Mei 27, 2011

JET FIGHTER

F-33


Model jet tempur siluman KF-X. (Foto: emile)

F-33 (sebelumnya KF-X)
 Tipe Pesawat tempur multifungsi
 Produsen KAI dan Dirgantara Indonesia
 Diperkenalkan direncanakan 2020
 Status Dalam pengembangan
 Pengguna Korea Selatan dan Indonesia
F-33 (sebelumnya KF-X) adalah sebuah program Korea Selatan dan Indonesia untuk mengembangkan pesawat tempur multi-fungsi canggih untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU)[1], program ini dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Negara-negara lain seperti Turki telah menunjukkan minat dalam kerjasama pengembangan dan produksi pesawat. Ini adalah program pengembangan pesawat tempur kedua Korea Selatan setelah KAI FA-50.
Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda di Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. Meskipun persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Badan Pengembangan Pertahanan) adalah untuk mengembangkan pesawat ber kursi-tunggal, ber mesin jet kembar dan dengan kemampuan siluman (stealth) yang lebih baik dibanding Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih kurang stealth dibanding Lockheed Martin F-35 Lightning II, fokus dari program tersebut telah bergeser untuk memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari pesawat tempur kelas KF-16 pada tahun 2020. [2][3]

Spesifikasi

  • Kru: 1
  • Daya dorong : sekitar 50,000 ;lbf
  • Avionik
    • Kemampuan Datalink
    • Radar AESA
    • IRST
  • RCS = dibawah 0.1 m2

SUMBER WIKIPEDIA

RI-KORSEL BUAT JET TEMPUR KFX 201 STEALTH

Komisioner DAPA Byun berjabat tangan dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsuddin setelah penandatanganan LoI (Letter of Intent) pengembangan bersama jet tempur, disaksikan kedua kepala pemerintahan Indonesia – Korea Selatan, Maret 2010 di Seoul. (Foto: DAPA)

16 Juli 2010, Seoul -- Indonesia sepakat bergabung dalam proyek pengembangan jet tempur KF-X,Korea Selatan (Korsel), yang tertunda selama beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan.

Kedua negara juga sepakat untuk bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur tersebut. “Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20% biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dolar AS itu,” ungkap Kementerian Pertahanan Korsel dalam rilisnya. Kesepakatan itu ditandatangani di Seoul oleh Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia Marsekal Madya TNI Erris Herryanto kemarin.Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Korsel,proyek ini akan kembali dimulai awal tahun depan. Adapun produksi jet-jet tempur baru dilakukan setelah studi kelayakan rampung pada akhir 2012.

Model jet tempur siluman KF-X. (Foto: emile)

“Kami juga memerlukan mitra asing yang akan mentransfer teknologi dan suku cadang utama jet tempur tersebut,” ujarnya tanpa menyebutkan total dana yang diperlukan. Proyek jet tempur KF-X sebenarnya sudah diluncurkan tahun 2000,tapi ditangguhkan karena masalah teknis dan ekonomi.Presiden Lee Myung-bak pada Januari lalu setuju untuk mendorong proyek tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Korsel dan Korut. Kementerian Pertahanan RI membenarkan kerja sama dengan Korsel dalam memproduksi pesawat tempur KF-X.Pemerintah Indonesia bisa menggunakan fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia.

“Kami tidak hanya membeli pesawat tempur, tetapi juga ingin bekerja sama dalam produksinya.Kami berharap fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia bisa digunakan untuk hal itu,”kata Juru Bicara Kemhan BrigjenTNI I Wayan Midhio. I Wayan mengatakan KF-X adalah pesawat tempur jenis baru yang memiliki kemampuan tempur andal. Bahkan.Wayan berani mengklaim kemampuan KF-X ini di atas F-16, tapi masih di bawah F-35.Wayan mengakui pemerintah berencana membeli 50 buah KF-X begitu pesawat selesai diproduksi.Tidak hanya membeli, pemerintah juga membantu memasarkan pesawat itu ke negara-negara lain.

“Saya kira, prinsip yang paling utama adalah sekarang negara kita bisa ikut terlibat dalam proses produksinya,jadi ada transfer teknologi,”tuturnya. Juru Bicara TNI Angkatan Udara Laksamana Pertama Bambang Samudro menyatakan kerja sama produksi pesawat tempur dengan Korsel ini adalah bagian dari rencana kedua pihak untuk meningkatkan kemampuan dalam memproduksi pesawat tempur.“Ini adalah kerja sama jangka panjang kedua negara.Kesepakatan ini dicapai setelah melalui pembicaraan panjang,”tuturnya.

Kerja sama produksi pesawat tempur ini, lanjut Bambang,dimulai tahun ini sementara segala persiapan seperti survei dan membuat prototipe akan dilakukan hingga 10 tahun ke depan.Bambang menambahkan, TNI AU akan memakai semua pesawat itu jika pemerintah membelinya.“Yang paling utama, kita tidak hanya membeli, tetapi kita bisa membuat sendiri peralatan tempur kita sebagaimana yang pemerintah inginkan,”katanya. Sekjen Kemhan Marsekal Madya Erris Herryanto sebelumnya mengatakan Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur.Menurut dia,langkah kerja sama dengan Korsel merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur.


Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain. Namun Erris saat itu belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu,termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,”kata Erris. Dia juga mengungkapkan, spesifikasi pesawat tempur KF-X ini kira-kira berada di atas F-16,tetapi di bawah spesifikasi F-35.Adapun kebutuhan biaya yang diajukan sekitar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020.Pada 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe.Dari keseluruhan anggaran itu,Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20%.

Berdasar informasi yang berkembang, pesawat tempur ini rencananya akan rilis pada 2020 .Rencananya KF-X akan disokong mesin kembar setara dengan kelas General Electric F414 atau SNECMA M88 yang digunakan pada F/A- 18E/F Boeing dan Dassault Rafale. SNECMA menggambarkan M88 sebagai landasan dari keluarga mesin generasi baru. Mitra yang akan dirangkul untuk pengembangan mesin adalah Lockheed Martin yang sebelumnya terlibat dalam desain dan pengembangan pelatih Korea Aerospace T-50 jet supersonik. Proyek KF-X juga akan merangkul sejumlah perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan asing akan membayar hingga 30% dari program.

Kepala Tim Pengembangan Sistem Udara Korsel Kolonel AU Dae Yeol-lee sebelumnya mengungkapkan, BAE Systems telah menyatakan minatnya dalam mengembangkan radar, sedangkan Alenia Aeronautica dipercaya untuk memasok senjata utama dari KF-X dan bertanggung jawab pada program neuron kolaboratif untuk mengembangkan teknologi European combat-drone.

SINDO


RI MAMPU PRDUKSI JET TEMPUR KFX 201

Model jet tempur KF-X. (Foto: aviationweek)

17 Juli 2010, Bandung -- PT Dirgantara Indonesia (DI) menyatakan siap membuat pesawat tempur KF-X guna mendukung kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel).

Perusahaan dirgantara nasional tersebut memiliki kompetensi untuk membuat pesawat tempur dengan kemampuan di atas rata-rata. “Desain, sumber daya manusia, teknologi, dan quality control kami menyatakan siap,” ujar Kepala Humas PT DI Rakhendi Triyatna kepada wartawan di Bandung kemarin. KesiapanPTDIbukanlahisapan jempol. Rakhendi menyebutkan, antara tahun 1986-1990 saat masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN),pihaknya pernah memproduksi tujuh komponen untuk 40 pesawat tempur F-16. Hasilnya excellent,”tandasnya.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI I Wayan Midhio mengatakan,RI akan berusaha agar pembuatan KFX dapat dilakukan di Tanah Air, khususnya di PT DI.Dengan demikian, diharapkan Indonesia bisa mendapat transfer teknologi. Namun di mana kepastian pesawat tempur KF-X akan diproduksi, menurut dia,sejauh ini belum dibicarakan. “Kami berharap pesawatnya dapat dibuat di sini (Indonesia). Ini akan dibahas dalam kesepakatan selanjutnya.Kalau yang ditandatangani Pak Erris Herryanto (Sekjen Kemhan) kemarin itu baru perjanjian awal,”ujar I Wayan.

I Wayan menuturkan, nota kesepahaman dengan Korsel berkaitan dengan rencana produksi bersama (joint production), riset hingga terbentuknya prototipe pesawat tempur. Prototipe tersebut dapat diproduksi di Indonesia tahun 2020 oleh PT DI. Lebih jauh dia menjelaskan, Indonesia tidak akan mendapat lisensi dari pesawat KF-X karena rancangan awal dari jet tempur tersebut adalah milik Korsel sepenuhnya. Indonesia dalam hal ini hanya menjadi mitra kerja sama, terutama dalam hal pemasaran. Kendati demikian, dia menjamin Indonesia akan mendapat keuntungan dari kerja sama ini karena dapat menyerap teknologi, sedangkan pihak Korsel dapat memangkas biaya produksi dan terbantu di urusan penjualan produk pesawat tempur.

Dia menambahkan, selain sudah mempunyai kemampuan membuat pesawat, Indonesia dipilih Korsel karena memiliki kedekatan dengan banyak negara berkembang.“ Pasar dari KF-X yang utama adalah negara berkembang dan Indonesia sebagai negara berkembang memiliki banyak kolega dengan negara-negara lain,”katanya. Seperti diberitakan sebelumnya, Kemhan RI meneken kesepakatan dengan Korsel untuk memproduksi dan memasarkan jet tempurKF- Xyang tertunda beberapa tahun karena terbentur masalah teknis dan pendanaan. Kesepakatan bukan hanya menjadi kebanggaan bangsa karena tidak banyak negara yang bisa memproduksi pesawat tempur,tapi juga untuk melepaskan ketergantungan alat utama sistem senjata (alutsista) dari negara lain.


Dalam kesepakatan yang diteken Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekjen Kemhan RI Marsekal Madya TNI Erris Herryanto, Indonesia akan menanggung 20% biaya dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16 ini. Sekjen Kemhan Erris Herryanto sebelumnya pernah mengungkapkan, anggaran yang dibutuhkan untuk proyek strategis tersebut sebesar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja sama hingga 2020. Selama waktu itu diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe. Berdasar informasi yang berkembang, KF-X tergolong pesawat tempur generasi baru.

Pesawat single seat bermesin ganda ini adalah jenis pesawat siluman (stealth) yang kemampuannya di atas pesawat Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih di bawah Lokheed Martin F-35.Kemampuan tempurnya juga tidak usah diragukan karena lebih unggul dibandingkan pesawat F-16 Block 60. Untuk mendukung ketersediaan peranti canggih,produksi KF-X akan merangkul sejumlah perusahaan internasional untuk menyediakan sistem radar, data link, desain, mesin jet, teknologi stealth, persenjataan,dan lainnya. Pengamat militer MT Arifin berharap dalam kerja sama pembuatan pesawat KF-X tersebut Indonesia bisa memastikan adanya alih teknologi. Proses alih teknologi dapat terjadi dengan melibatkan PT DI dalam pembuatan KF-X.

Menurutnya, tanpa adanya transfer teknologi, kerja sama yang memakan banyak biaya tersebut akan sia-sia,bahkan mendatangkan kerugian.“Kita harus melihat dulu perjanjiannya seperti apa? Yang terpenting,Indonesia harus mendapatkan transfer ilmu dari adanya kerja sama pembangunan pesawat ini,”ujarnya. Dia pun menilai Indonesia sudah saatnya memproduksi sendiri materi keperluan pertahanan dan keamanan.Jika ilmuwan Tanah Air mampu dengan optimal menyerap teknologi dari Korsel, hal itu dinilainya sebagai perkembangan yang luar biasa.Selama ini Indonesia masih banyak membeli senjata, pesawat,dan kapal dari luar. “PT DI memang begitu bagus di era Habibie. Namun setelah itu banyak ilmuwan terbaik kita yang lebih memilih bekerja di Singapura dan negara-negara lain.

Ini bisa menjadi momentum yang bagus untuk PT DI,”imbuhnya. Selain harus terdapat alih teknologi, menurut Arifin,ada satu lagi syarat yang mesti diperhatikan Indonesia dalam perjanjian ini,yakni harus tetap menjaga netralitasnya di dunia internasional. Dia berharap Indonesia jangan sampai terpicu untuk mengikuti paham atau blok yang tengah berkonflik. Sementara itu,anggota Komisi I DPR RI Sidarta Danusubroto mengaku pihaknya sama sekali belum mendengar rencana kerja sama Indonesia dengan Korsel untuk membuat pesawat tempur. Karena itu, Komisi I DPR akan meminta keterangan pemerintah,terutama Kemhan, tentang tujuan dan latar belakang kerja sama tersebut. “Saya baru mendengar ini.

Apakah ini berupa MoU atau malah baru sekadar wacana? Seharusnya kami diajak rembuk dulu dong.Kalau tidak diajak rembuk,mana kita tahu apakah ini bisa bermanfaat atau tidak? Sebab prinsipnya, setiap kerja sama yang akan dilakukan harus memberi manfaat bagi kita.Termasuk dalam pengadaan pesawat maupun dalam penguatan kemampuan personel,”katanya. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengingatkan agar pemerintah lebih berhatihati dalam membuat kebijakan kerja sama dengan luar negeri.

Selain itu,pemerintah harus menjelaskan sumber dana yang akan dipakai untuk membiayai program kerja sama tersebut.Sebab,lanjut dia,masalah biaya menjadi pertanyaan mendasar karena bisa menjadi pemborosan anggaran jika sasaran yang dicari tidak bernilai signifikan. “Kalau ada kerja sama begini, harus jelas juga anggarannya dari mana? Siapa yang membiayai? Jangan seperti sebelum-sebelumnya yang tahu-tahu sudah terjadi baru DPR diberi tahu,”pungkasnya.

Dukungan Blogger

Kerja sama Indonesia-Korsel ini ternyata sudah sampai ke telinga para blogger sista (sistem pertahanan), Facebookerdan menjadi perbincangan hangat di Kaskus. Berdasarkan penelusuran harian Seputar Indonesia hingga sore kemarin,sudah ada akun Facebook dengan nama Dukung RI Produksi Pesawat Tempur Ini.Tampilan depan akun menunjukkan dua buah pesawat kuno yang mengudara dengan tiga foto pahlawan di atasnya.Adapun tagline yang ditampilkan adalah “Indonesia harus mampu produksi pesawat tempur”.

Salah seorang anggota bernama Anggih Romadhon menulis statusnya dalam laman tersebut terkait kerja sama ini: “Alhamdulillah akhirnya kerja sama Indonesia-Korsel buat produksi pesawat tempur jadi juga. Bukan sekadar wacana-wacana kosong belaka. Hidup Indonesia!”.

SINDO


 

KFX201 
Like several other aircraft I've made 3-view drawings of, the KFX201 is a real-life projected aircraft design. Unlike the others, however, *this* project is still on-going, and could potentially produce a flyable aircraft!

The KFX project officially began in 2001, in order to meet a ROKAF requirement for a 5th-Generation Air Superiority Fighter. The F-22A Raptor was actually ROKAF's first choice, but the US government was (and remains) willy-nilly about the prospect of exporting F-22 technology abroad, so this wasn't an option for South Korea.

If they really DO build this thing, and ultimately offer it on the export market, it'll be a major competitor for (and universally better deal than) the F-35 --- and a gigantic humiliation for Lockheed-Martin and Congress.

The KFX201 was one of two different potential layouts for the KFX (the other being the KFX202, which is a dead-ringer for the F-22A). So far, the '201 is the most-publicized of the two, so it will probably be the winning design.


Here's the performance data of a *possible* configuration for the KFX201;

============ KFX201 Data ============
©2010 Blacktail

Role: Air Superiority Fighter
Unit Price: US$41 Million
Crew: 1
Size(LxWxH): 54x41x15ft
Wing Area: 540ft2
Empty Weight: ~30000lbs
Internal Fuel: ~20000lbs
Payload: ~20000lbs
Max. T/O Weight: 80000lbs
Wing Loading: 55.55lb/ft2
T/W Ratio: 1.86
Fuel Fraction: 0.66
Range: 1180nm
Ceiling: 60000ft
Cruise Speed: Mach 1.4
Top Speed: Mach 1.6
Climb Rate: 50000ft/min
Initial Turn Rate: 35 degrees/sec
Continuous Turn Rate: 20 degrees/sec
Max. G-Load: +9/-3
Sensors: EL/M-2052 AESA Radar
Scan Range: 200nm@45 degrees
Look Down: Yes
Shoot Down: Yes
Propulsion: 2x F110-GE-100 Turbofans w/ 35060lbs/military thrust, 56000lbs/AB
Thrust Vectoring: Yes (2D, differential, +/- 30 degrees)
Weapon Stations: 1x 20mm M61A2 w/500rds, 2s Internal Bay w/500lb Capacity, 1x Internal Bay w/10000lb Capacity, 2x Underwing Hardpoint w/5000lb Capacity, 2x Underwing Hardpoint w/2000lb Capacity, 2x Underwing Hardpoint w/500lb Capacity
ECMs: Chaff/Flare launchers (30/30), Tactical Jammer
FBW: Yes (Fiber-Optic)
RCS: Less than 1ft3
Stealth: Yes
Tailhook: No
Catapult Hitch: No
Drag Chute: No
AAR: Yes (Receptacle)
Other: All-moving canards, LCD 3-Screen MFD, 3D HUD, Single-piece polyeurothane canopy, HOTAS, Contoured Seat, Zero-Zero ejection seat, Voice-Command System, Digital Datalink

http://blacktailfa.deviantart.com/art/KFX201-183945848

Jubir TNI AU : Indonesia Ikut Dalam Pemasaran KFX

Metrotvnews.com, Jakarta: Juru bicara TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Bambang Samoedro menegaskan Indonesia dan Korea Selatan sepakat memperkuat kerja sama di masa mendatang. Menurut Bambang, kerja sama tersebut dikhususkan pada angkatan udara.

Diakui Samoedro, kesepakatan dibicarakan di Jakarta, Senin (1/11). Pertemuan melibatkan Kepala Staf AU Marsekal Imam Sufaat dengan Atase Pertahanan Korea Selatan Kolonel Moon Daecheol. Sebenarnya kerja sama militer antara kedua negara berjalan baik sejak lama.

Sebelumnya Indonesia sepakat bergabung dalam proyel pengembangan Jet Tempur KF-X, Korea Selatan. Namun tertunda beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan. Pun kedua negara sepakat bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur.

"Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20 persen biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dolar AS itu," ujar Kementerian Pertahanan Korsel dalam rilisnya.

Kelak produksi jet-jet tempur dilakukan setelah studi kelayakan rampung, akhir 2012. Selain itu, menurut Asisten Perencanaan KSAU Marsekal Muda Ery Biatmoko, pesawat jet tempur KF-X akan memperkuat skuadron tempur TNI Angkatan Udara. Tujuannya tak lain mengamankan seluruh wilayah udara nasional.

Sumber: METRO NEWS

Saab Gripen


JAS 39 Gripen
2006JASGripen3JM.jpg
 Tipe Pesawat tempur multi-peran
 Produsen Saab
 Terbang perdana 9 Desember 1988
 Diperkenalkan 9 Juni 1996
 Status Aktif
 Pengguna Swedia
Hungaria
Ceko
 Jumlah produksi 184
 Harga satuan US$ 25 juta (1998)
US$ 45–50 juta (2006)
Saab JAS 39 "Gripen" (Griffin) adalah sebuah pesawat tempur dari Swedia yang diproduksi oleh Saab. Pesawat ini dijual oleh perusahaan Gripen International, sebuah joint venture antara Saab dan BAE Systems. Pesawat ini sudah dipakai oleh angkatan udara Swedia, Ceko, dan Hungaria,[1] serta sudah dipesan oleh Afrika Selatan[2] dan Thailand.[3][4]

 Desain

Kanard Saab JAS 39 Gripen
Saab Gripen
ILA 2008 PD 113.JPG
JAS 39C, Brno, CIAF 2007
JAS Gripen
JAS-39D 43 HuAF
Rb15.JPG
JAS-39 Gripen Swedia

dalam merancang pesawat ini Saab memilih desain kanard yang tidak stabil. Kanard memberikan pitch rate tinggi dan hambatan yang rendah sehingga memungkinkan pesawat untuk terbang lebih cepat , lebih jauh dan mengankut lebih banyak beban.
Kombinasi sayap delta dan Kanard memberikan Gripen performa yang lebih baik dalam hal karakter terbang maupun lepas landas dan mendarat. Avionik yang total menyatu membuat pesawat ini mampu di "program". Pesawat ini juga mempunyai perangkat perang elektronika internal, sehingga membuatnya mampu mengangkut beban maksimal tanpa mengorbankan kemampuan perang elektronikanya.
Kemampuan yang diinginkan untuk gripen dari awal adalah mampu lepas landas dari landasan pacu sepanjang 800 meter.Pada awal proyek ini, semua penerbangan yang dilakukan dari landasan Saab di Linköping menggunakan acuan sebuah "garis kotak" berukuran 9 m × 800 m yang dicat dilandasan pacu. Jarak pengereman juga diperpendek dengan memperbesar rem udara (menggunakan kontrol permukaan untuk menekan pesawat kearah bawah, membuat rem lebih bertenaga menekan kebawah dan langkah berikutnya adalah memutar kanard ke arah depan, memngubah kanard menjadi rem udara yang besar, untuk menekan pesawat kebawah lebih hebat lagi.
Satu kemampuan menarik dari gripen adalah kemampuannya untuk mendarat pada jalanan umum, yang merupakan salah satu strategi pertahanan Swedia. Begitu mendarat , pesawat ini bisa diisi bahan bakar dan dipersenjatai lagi dalam 10 menit oleh 5 orang kru darat yang beroperasi dari sebuah truk, kemudian Gripen terbang kembali untuk melaksanakan misinya.
Untuk jangka panjang Saab mempertimbangkan untuk menggunakan mesin yang lebih baru seperti General Electric F414 atau versi thrust-vectoring dari mesin EJ200 milik Eurofighter Typhoon dan tanki bbm tambahan atau perpanjangan badan pesawat utnuk jarak tempuh yang lebih jauh.[5]

Radar

Gripen menggukan PS-05/A radar pulse-doppler, buatan Ericsson dan GEC-Marconi, dan berdasar pada radar Blue Vixen milik Sea Harrier (yang juga mengilhami radar CAPTOR milik Eurofighter).
Radar ini mampu mendeteksi, melacak lokasi , mengidentifikasi dan secara otomatis menjejak multi target di atas maupun bawah pesawat, laut darat maupun udara , disemua kondisi cuaca.

Varian

JAS 39 Gripen, Farnborough 2006
JAS 39A
JAS 39B
JAS 39C
JAS 39D
Gripen Demo
Gripen NG/IN

Operator

Operator Gripen merah, pemesan hijau dan pembeli potensial biru
JAS 39 Gripen Hungaria, 2007
 Republik Ceko
 Hongaria
 Afrika Selatan
 Swedia
 Britania Raya

 Pemesan

 Thailand

Spesifikasi (JAS 39 Gripen)

Mesin Gripen
Data dari Gripen International data,[6] Gripen to Brazil data,[7] Superfighters,[8] Czech Republic page,[9] Gripen weapons,[10] Great Book,[11] Fuel chart.[12]

Karakteristik umum

  • Kru: 1 (2 for JAS 39B/D)
  • Panjang: 14.1 m
  • Lebar sayap: 8.4 m
  • Tinggi: 4.5 m
  • Luas sayap: 30.0 m²
  • Bobot kosong: 5,700 kg
  • Bobot terisi: 8,500 kg
  • Bobot maksimum lepas landas: 14,000 kg
  • Mesin:Volvo Aero RM12 afterburning turbofan
    • Dorongan kering: 54 kN
    • Dorongan dengan pembakar lanjut: 80.5 kNWheel track: 2.4 m (7 ft 10 in)
  • Length (two-seater): 14.8 m (48 ft 5 in)

Kinerja

Persenjataan

Pesawat sebanding

Urutan penamaan

Sukhoi PAK FA

PAK FA
PAK FA T-50 prototype on the day of its first flight
Role Stealth multirole fighter
National origin Russia
Manufacturer Sukhoi
First flight 29 January 2010[1][2][3]
Introduction 2015 (planned)[4][5][6]
Status Test flight / pre-production
Primary user Russian Air Force
Number built 4 (2 flown)[7]
Program cost US$8–10 billion (est.)[8][9][10]
Unit cost US$100 million (est.)[11]
Variants Sukhoi/HAL FGFA
The Sukhoi PAK FA (Russian: Перспективный авиационный комплекс фронтовой авиации, Perspektivny aviatsionny kompleks frontovoy aviatsii, literally "Prospective Airborne Complex – Frontline Aviation") is a twin-engine jet fighter being developed by Sukhoi OKB for the Russian Air Force.
The current prototype is Sukhoi's T-50.[12] The PAK FA, when fully developed, is intended to be the successor to the MiG-29 and Su-27 in the Russian inventory and serve as the basis of the Sukhoi/HAL FGFA being developed with India.[13][14] A fifth generation jet fighter, the T-50 performed its first flight 29 January 2010.[3][15] Its second flight was on 6 February and its third on 12 February 2010. As of 31 August 2010, it had made 17 flights and by mid-November, 40 in total. The second prototype was to start its flight test by the end of 2010, but this was delayed until March 2011.[16][17][18][19][20]
Sukhoi director Mikhail Pogosyan has projected a market for 1,000 aircraft over the next four decades, which will be produced in a joint venture with India, two hundred each for Russia and India and six hundred for other countries.[21] He has also said that the Indian contribution would be in the form of joint work under the current agreement rather than as a joint venture.[22] The Indian Air Force will "acquire 50 single-seater fighters of the Russian version" before the two seat FGFA is developed.[23] The Russian Defense Ministry will purchase the first 10 aircraft after 2012 and then 60 after 2016.[24][25] The first batch of fighters will be delivered without the "Fifth generation" engines.[26] Ruslan Pukhov, director of the Centre for Analysis of Strategies and Technologies, has projected that Vietnam will be the second export customer for the fighter.[27] The PAK-FA is expected to have a service life of about 30–35 years.

Development

Radar with APAA for the PAK FA is provided by NIIP. MAKS-2009
APAA in slat. MAKS-2009
In the late 1980s, the Soviet Union outlined a need for a next-generation aircraft to replace its MiG-29 and Su-27 in frontline service. Two projects were proposed to meet this need, the Sukhoi Su-47 and the Mikoyan Project 1.44. In 2002, Sukhoi was chosen to lead the design for the new combat aircraft.[28]
The Tekhnokompleks Scientific and Production Center, Ramenskoye Instrument Building Design Bureau, the Tikhomirov Scientific Research Institute of Instrument Design, the Ural Optical and Mechanical Plant (Yekaterinburg), the Polet firm (Nizhniy Novgorod) and the Central Scientific Research Radio Engineering Institute (Moscow) were pronounced winners in the competition held in the beginning of 2003 for the development of the avionics suite for the fifth-generation airplane. NPO Saturn has been determined the lead executor for work on the engines for this airplane.
The Novosibirsk Chkalov Aviation Production Association (NAPO Chkalov) has begun construction of the fifth-generation multirole fighter. This work is being performed at Komsomol'sk-on-Amur together with Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association; the enterprise's general director, Fedor Zhdanov reported during a visit to NAPO by Novosibirsk Oblast's governor Viktor Tolokonskiy on 6 March 2007. "Final assembly will take place at Komsomol'sk-on-Amur, and we will be carrying out assembly of the fore body of this airplane", Zhdanov specified.
On 8 August 2007, Russian Air Force Commander Alexander Zelin was quoted by Russian news agencies that the development stage of the PAK FA program is now complete and construction of the first aircraft for flight testing will now begin.[29] Alexander Zelin also said that by 2009 there will be three fifth-generation aircraft ready. "All of them are currently undergoing tests and are more or less ready", he said.[30] In the summer of 2009 the design was approved.[28]
On 11 September 2010, it was reported that Indian and Russian negotiators had agreed on a preliminary design contract that would then be subject to Cabinet approval. The joint development deal would have each country invest $6 billion and take 8 to 10 years to develop the FGFA fighter.[31] The agreement on the pre-design of the fighter was to be signed in December 2010.[32] The preliminary design will cost $295 million and will be complete within 18 months.[33]

Flight testing

Optical detection pod for the Sukhoi PAK FA at MAKS-2009
On 28 February 2009, Mikhail Pogosyan announced that the airframe for the aircraft was almost finished and that the first prototype should be ready by August 2009.[34] On 20 August 2009, Sukhoi General Director Mikhail Pogosyan said that the first flight would be by year end. Konstantin Makiyenko, deputy head of the Moscow-based Centre for Analysis of Strategies and Technologies said that "even with delays", the aircraft would likely make its first flight by January or February, adding that it would take 5 to 10 years for commercial production.[35]
The maiden flight had been repeatedly postponed since early 2007 as the T-50 encountered unspecified technical problems. Air Force chief Alexander Zelin admitted as recently as August 2009 that problems with the engine and in technical research remained unsolved.[36]
On 8 December 2009, Deputy Prime Minister Sergei Ivanov announced that the first trials with the fifth-generation aircraft would begin in 2010.[37] The testing, however, has commenced earlier than stated, with the first successful taxiing test taking place on 24 December 2009.[38][39][40]
The aircraft's maiden flight took place on 29 January 2010 at KnAAPO's Komsomolsk-on-Amur Dzemgi Airport; the aircraft was piloted by Sergey Bogdan (Сергей Богдан) and the flight lasted for 47 minutes.[3][41][42] [43]
A second airframe was first planned to join the flight testing in the fourth quarter of 2010 but was postponed. On 3 March 2011 a second prototype was reported to have made a successful 44 minutes test flight.[16] These first two aircraft will lack radar and weapon control systems, while the third and fourth aircraft, to be added in 2011, will be fully functional test aircraft.[44]
On 14 March 2011, the aircraft achieved supersonic flight at a test range near Komsomolsk-on-Amur in Siberia.[45]
The T-50 is expected to be on display at the 2011 MAKS Airshow.[46]

Naval version

Navalized Sukhoi T-50 PAK FAs will be deployed on the Russian aircraft carrier Admiral Kuznetsov and future Russian aircraft carriers.[47] There will be a competition between the Sukhoi, Mikoyan and Yakovlev design bureaus to choose the new naval aircraft.[48]

Light fighter

Alexei Fedorov has said that any decision on applying fifth generation technologies to produce a smaller fighter (in the F-35 range) must wait until after the heavy fighter, based on the T-50, is completed.[49]

 Design

Although most of information about the PAK FA is classified, it is believed from interviews with people in the Russian Air Force and Defense Ministry that it will be stealthy,[9] have the ability to supercruise, be outfitted with the next generation of air-to-air, air-to-surface, and air-to-ship missiles, incorporate a fix-mounted AESA radar with a 1,500-element array[50] and have an "artificial intellect".[51]
The PAK FA on a runway
According to Sukhoi, the new radar will reduce pilot load and the aircraft will have a new data link to share information between aircraft.[52]
Composites are used extensively on the T-50 and comprise 25% of its weight and almost 70% of the outer surface.[44] It is estimated that titanium alloy content of the fuselage is 75%. Sukhoi's concern for minimizing radar cross-section (RCS) and drag is also shown by the provision of two tandem main weapons bays in the centre fuselage, between the engine nacelles. Each is estimated to be between 4.9-5.1 m long. The main bays are augmented by bulged, triangular-section bays at the wing root.[53]
The Moskovsky Komsomolets reported that the T-50 has been designed to be more maneuverable than the F-22 Raptor at the cost of making it less stealthy than the F-22.[54] One of the design elements that have such an effect is the Leading Edge Vortex Controller (LEVCON).

 Avionics

The PAK FA SH121 radar complex includes three X-Band AESA radars located on the front and sides of the aircraft. These will be accompanied by L-Band radars on the wing leading edges.[55][56] L-Band radars are proven to have increased effectiveness against very low observable (VLO) targets which are optimized only against X-Band frequencies, but their longer wavelengths reduce their resolution.
The PAK FA will feature an IRST optical/IR search and tracking system, based on the OLS-35M which is currently in service with the Su-35S.
Hindustan Aeronautics Limited will reportedly provide the navigation system and the mission computer.[54][dubious ]

Engines

The PAK FA was expected to use a pair of Saturn 117S engines on its first flights. The 117S (AL-41F1A) is a major upgrade of the AL-31F based on the AL-41F intended to power the Su-35BM, producing 142 kN (32,000 lb) of thrust in afterburner and 86.3 kN (19,400 lb) dry. In fact, PAK FA already used a completely new engine in its first flight, as stated by NPO Saturn.[57] The engine is not based on the Saturn 117S and is rumoured to be called "127 engine".[58] The engine generates a larger thrust and has a complex automation system, to facilitate flight modes such as maneuverability. Exact specifications of the new engine are still secret. It is expected that each engine will be able to independently vector its thrust upwards, downward or side to side. Vectoring one engine up with the other one down can produce a twisting force. Therefore the PAK FA would be the first fifth generation fighter with full 3-D thrust vectoring along all three aircraft axes: pitch, yaw and roll. These engines will incorporate infrared and RCS reduction measures.[59][60]

Armament

The PAK FA has a reported maximum weapons load of 7,500 kg.[61] It has an apparent provision for a cannon (most likely GSh-301). It could possibly carry as many as two 30 mm cannons.[26] It has two internal bays estimated at 4.6-4.7 metres by 1-1.1 metres.[62] Some sources suggest two auxiliary internal bays for short range AAMS and six external hardpoints.
Two Izdeliye 810 Extended beyond visual range missiles per weapons bay. Multiple Izdeliye 180 / K77M beyond visual range missiles. K74 and K30 within visual range missiles can also be carried.[62] Two KH38M or KH58 USHK air-to-ground missiles per weapons bay. Multiple 250–500 kg precision guided bombs per weapons bay,[62] with a maximum of 10 bombs in internal bays.[61] Other possible loads include one 1,500 kg bomb per weapons bay or two 400 km+ range anti-AWACS weapons on external hardpoints.[63]

Operational history

Testing

The first flight video shows that PAK FA has no conventional rudders, its vertical tails are fully movable.[64] This special tail fin design is mechanically similar to V-tails used by the Northrop YF-23 in 1990s,[65] but is supplemented by dedicated horizontal stabilators (as on the F-22). The T-50 has wing leading-edge devices above the jet engine intakes that have been called a challenge for signature control.[66]

Specifications

Diagram
Because the aircraft is in development, these specifications are preliminary and are taken as estimates from the available images.
Data from warfare.ru,[67] pravda.ru[68]
General characteristics
  • Crew: 1
  • Length: 19.8 m (65.9 ft)
  • Wingspan: 14 m (46.6 ft)
  • Height: 6.05 m (19.8 ft)
  • Wing area: 78.8 m2 (848.1 ft2)
  • Empty weight: 18,500 kg (40,785 lb)
  • Loaded weight: 26,000 kg (57,320 lb)
  • Useful load: 7,500 kg (combat load) (16,534 lb)
  • Max takeoff weight: 37,000 kg (81,570 lb)
  • Powerplant: 2 × New unnamed engine by NPO Saturn and FNPTS MMPP Salyut of 175 kN each. Prototype with AL-41F1 of 147 kN each,[69] definitive version with new engine >157 kN[69]
  • Fuel capability: 10,300 kg (22,711 lb)[67]
Performance
Armament
  • Guns: None on prototype. Apparent provision for a cannon (most likely GSh-301). Possible two 30 mm cannons.[26]
  • Hardpoints: Two internal bays[62] Other sources suggest two auxiliary internal bays for short range AAMS and six external hardpoints
Avionics
N050(?)BRLS AFAR/AESA built by Tikhomirov NIIP and based on Tikhomirov NIIP N035 Irbis-E. It will be the second aircraft based AESA Radar to be built by Russia, the first being the Phazotron NIIR ZHUK-A Radar in the MIG-35.[71]

Comparable aircraft
Related lists

sumber : WIKIPEDIA




  • Sukhoi PAK FA

  • Sukhoi PAK FA
  • Sukhoi PAK FA

  • Sukhoi PAK FA

  • Sukhoi PAK FA

Hibah F-16 Dijadwalkan Akan Diterima Akhir Tahun 2011


JAKARTA - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Erris Herryanto mengatakan Kementerian Pertahanan (Kemhan) saat ini belum mengirim tim ke Amerika Serikat untuk mengecek kondisi pesawat tempur F-16 yang akan di hibahkan AS.

Rencananya, hibah F-16 akan dilakukan pada akhir tahun 2011 ini kepada Pemerintah Indonesia. “Tim belum dikirim, sekarang ini masih proses administrasi,” kata Marsekal Madya TNI Erris Herryanto saat dihubungi Jurnal Nasional, Kamis (12/5).

Erris menjelaskan, secara resmi hingga saat ini tim belum terbentuk. Sedangkan, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan TNI AU akan membentuk tim penilai kondisi pesawat tempur tersebut. “Tim akan dibentuk dalam waktu dekat, kemudian berangkat (ke AS) melihat kondisi pesawat,” kata Bambang Samoedro.

Pada kesempatan itu, Bambang belum menyebutkan siapa saja yang masuk dalam tim tersebut. Menurut Bambang, semua kondisi pesawat tersebut dalam kondisi baik.

Pesawat F-16 Lama Akan di Upgrade

Sementara itu Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono usai Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kamis (12/5) mengatakan hibah pesawat F-16 dari Pemerintah AS akan menimbulkan effect deterrence (efek penangkal).


Pesawat tempur F-16 yang di cadangkan USAF di Tucson-Arizona

“Hasil kajian TNI AU memang akan menimbulkan effect deterrence. Mengapa demikian, meskipun hibah tapi tipenya dan sistem persenjataannya lebih tinggi dari F-16 yang dimiliki sekarang,” kata Panglima TNI.

Panglima menjelaskan, F-16 yang kita miliki sekarang akan di up-grade sama dengan yang dihibahkan. Dengan demikian, lanjut Panglima TNI, dari segi jumlah dan kemampuan akan menimbulkan effect deterrence yang lebih baik daripada hanya membeli satu yang baru dengan jumlah uang yang sama.

Sumber : JURNAS
 

F16 ANG yang akan dihibahkan ke TNI AU


Deretan F-16 Fighting Falcons USAF. (Foto: USAF/ Tech. Sgt. Michael R. Holzworth)


F-16 yang digunakan oleh Air National Guard, Amerika (photo : Wiki)


Surplus F-16A/B USAF ditawarkan ke Indonesia. (Foto: USAF)

TNI Butuh Pesawat Tempur Sergap dan Peluru Kendali

F-16C Block 52, Indonesia berencana membeli sejumlah F-16 C/D guna melengkapi skuadron yang sudah ada serta mengupgrade F-16 A/B yang dimiliki. (Foto: F-16.net)
 

Laporan dari AS Regenerasi F16 Bisa Dilakukan di Indonesia Endang Isnaini Saptorini - detikNews


Endang Isnaini Saptorini - detikNews

Pesawat F-16 milik Air National Guard Amerika (photo : F16net)


F-16 yang digunakan oleh Air National Guard, Amerika (photo : Wiki)
 
f-16 TNI AU


F-16 TNI AU,


F16 TNI AU 

Yang menarik dari kunjungan ini adalah kesediaan para pelaku industri pertahanan AS ini untuk menjadi mitra dalam hal transfer tehnologi kepada Indonesia dan pembelian hasil produksi Indonesia dibawah supervisi AS untuk keperluan industri ini di kemudian hari.

"Sparepart F16 dapat diproduksi di Indonesia dengan supervisi AS. Hal ini sangat baik, karena mereka tidak semata-mata hanya mencari keuntungan saja, namun juga memikirkan benefitnya bagi terciptanya lapangan pekerjaan, transfer tehnologi untuk industri di tanah air," ungkap Hayono Isman yang dihubungi detikcom dalam perjalanan rombongan menuju New York dengan bus sewaan.

'Diharapkan kunjungan Menhan RI, Purnomo Yusiantoro ke AS akhir Mei ini dapat lebih mudah dalam upaya mempercepat kerjasama antara perusahaan Indonesia dan AS dalam hal regenerisasi untuk pembuatan komponen-komponen yang nantinya akan dikirim ke AS. Komisi I mendukung penuh program ini," tambah Hayono.

Hasil kunjungan ke Federal Communication Commission (FCC) memberikan masukan kepada Komisi I untuk penyusunan RUU Penyiaran. Menurut Hayono Isman, KPI perlu diberikan wewenang untuk membatalkan izin dari lembaga kepenyiaran yang melanggar peraturan kepenyiaran dalam menyajikan konten melalui proses yang ketat.

"Proses Demokrasi di Indonesia saat ini sedang berkembang, sehingga akan kurang tepat untuk memberlakukan revoke atau pembatalan izin seperti ini. Kami lebih suka dengan istilah “Fine” atau denda bagi pelanggar ketentuan peraturan kepenyiaran. Hal ini lebih efektif dan tidak membuat khawatir para pelaku bisnis kepenyiaran di Indonesia," ujar pimpinan delegasi kunjungan kerja Komisi I DPR RI ini.

Sementara itu, Komisi I mendapatkan masukan sebagai hasil kunjungan ke Office of the Director of National Intelligence (DNI), yang merupakan kantor pusat yang mengkoordinasikan 16 unit intelejen AS. Terutama dalam hal pentingnya koordinasi antar intelejen di Indonesia. Dalam hal ini Badan Itelejen Indonesia (BIN), agar dapat melakukan fungsinya sebagai pusat koordinasi, pengumpulan data dan analisa dalam berbagai kemungkinan timbulnya terorisme.

Sementara eksekusinya akan dilakukan oleh lembaga-lembaga lainnya, seperti kalau terorisme merupakan tugas polisi terutaman Densus 88 untuk melakukan penangkapan, sementara TNI untuk penangkalan dini terhadap berbagai potensi separatism dengan ‘soft power’ untuk mengatasinya. "Intelejen bertugas untuk instalasi awal penegakan demokrasi, penegakan HAM dan keterbukaan. Sehingga intelejen tidak perlu diberi wewenang untuk melakukan penangkapan," tambahnya.

Mengenai pertemuan dengan Kongres AS, Hayono mengatakan ada dua agenda yang dibahas yaitu mengenai peran Indonesia dalam perkembangan Demokrasi di Timur Tengah dan sambutan Indonesia atas kesempatan untuk berpartisipasi dalam ADA (Access Defense Article) yang harus mendapat persetujuan dari konggres AS

Menurut kongres AS yang ditemui Komisi I, Indonesia merupakan dapat menjadi role model bagi perkembangan demokrasi di Timur Tengah. "Untuk itu Komisi I akan menindaklanjuti dengan BKSAB (Badan Kerja Sama Antar BUMN)yang wakil ketuanya ada dalam rombongan bapak SIdarto Danusobroto (PDIP) dan Ibu K.Assegaf (Demokrat), untuk melakukan langkah-langkah proaktif dalam melakukan kontak dengan parlemen Mesir maupun Tunisia. Paling tidak dengan memberikan dukungan moril dan masukan kepada pemerintah Tunisia tentang bagaimana Indonesia melalui kegiatan parlemen bisa memperkuat demokrasi yang berkembang di Indonesia, papar Hayono.

Sementara itu Komisi I juga menyambut baik tawaran dari AS yang memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk program ADA (Access Defense Article), yaitu Hibah pesawat F16. "Komisi I DPR RI sepenuhnya mendukung program ini, termasuk memberikan dukungan untuk TNI AU untuk mendaopatkan F16 ini beserta alokasi dana regenerasinya," ujarnya.

Realisasi Hibah 24 F-16 Dipercepat


11 Mei 2011

Pesawat F-16 milik Air National Guard Amerika (photo : F16net)

Desember 2011, Realisasi Hibah 24 F-16

Jurnas.com REALISASI hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat kepada Indonesia, dijadwalkan lebih cepat. Jika tidak ada halangan, kemungkinan Desember tahun ini segera direalisasikan. Meski begitu, program hibah masih harus melalui meja Kongres AS yang dijadwalkan Juli depan. “Atase pertahanan KBRI memberikan gambaran program ini perlu waktu dua sampai lima tahun. Tetapi, setelah kami bertemu Pentagon, berhasil mempercepat proses pengadaan itu yakni 2011, akhir Desember,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hayono Isman di Washington DC tadi malam.

Pertemuan dengan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) merupakan salah satu agenda dari serangkaian kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke AS. Menurut Hayono, yang penting bagi Indonesia bukan memiliki pesawat supercanggih F-16 untuk mengimbangi negara tetangga atau lainnya. "Indonesia ingin ada penguatan industri pertahanan kita," kata Hayono.

Karena itu, dalam program ini, Indonesia mengajukan PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai partner, minimal pemeliharaan. ”Biaya pemeliharaannya sangat mahal kalau harus dikirim ke AS, atau Singapura yang sudah memiliki fasilitas itu,” katanya.

Hibah didasarkan pada program EDE (excess defend article) yang selama ini menjadi aturan di AS. EDE membolehkan AS menghibahkan alutista militernya kepada negara lain yang dianggap sahabat AS. “Negara yang dianggap compatible dengan nilai-nilai yang dimiliki AS, misalnya demokrasi dan penegakan HAM. Indonesia dianggap sudah memenuhi kriteria itu,” kata mantan tokoh Kosgoro ini. Hibah ini merupakan hasil kunjungan Menteri Pertahanan AS Robert Gates ke Indonesia tahun silam.

(Jurnal nasional)

Baca Juga :

F-16 Harus Direparasi Total
11 Mei 2011

Jurnas.com MESKI dalam kondisi siap pakai tapi 24 F-16 hibah dari AS meski direparasi total. Sebab peralatan sudah banyak ketinggalan. “Intellectual property-nya, seperti peralatan komunikasi harus dipoles lagi dan bahkan diperbarui,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hayono Isman di Washington DC tadi malam.

Komisi I menginginkan dikerja samakan dengan PT Dirgantara Indonesia juga minta enam pesawat tambahan buat cadangan. ”Agar bisa dikanibal suku cadangnya sebab jenis yang dihibahkan ini sudah tidak dibuat lagi,” kata Hayono.

Dalam Foreign Military Sales, US Air Force bertanggung jawab pada pemeliharaan namun harus menunjuk perusahaan lokal AS, dan siapa yang ditunjuk oleh FMS,nantinya akan menjadi kontraktornya. Bisa saja FMS menunjuk Lockheed Martin, pabrik pembuatnya. “Tapi kita minta Lockheed Martin harus bekerja sama dengan PT DI. Kalau sampai tidak, kita tolak hibah ini,” tegas Hayono.

(Jurnal Nasional)

TNI Terima Hibah Pesawat F-16 AS



F-16 Fighting Falcon AU AS. (Foto: U.S. Air Force/Master Sgt. David Neve)

14 Februari 2011, Jakarta -- (ANTARA News): Tentara Nasional Indonesia (TNI) menerima tawaran hibah dua skuadron pesawat tempur F-16A/B Fighting Falcon dari Amerika Serikat (AS).

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono kepada ANTARA di Jakarta, Senin, mengemukakan, proses persetujuan sudah disampaikan Kementerian Pertahanan dan kini menunggu konfirmasi dari pihak AS.

F-16 yang digunakan oleh Air National Guard, Amerika (photo : Wiki)


"Prosesnya sedang berjalan, sudah ditindaklanjuti juga oleh Kementerian Pertahanan dan saat ini kita menunggu konfirmasi lebih lanjut dari AS tentang persetujuan RI atas hibah tersebut," ujarnya.

Agus menuturkan, pertimbangan TNI menerima hibah dua skuadron F-16A/B Fighting Falcon itu dikarenakan lebih efektif dan efisien jika membeli enam pesawat sejenis yang baru.

"TNI telah memprogramkan pengadaan enam pesawat F-16 yang baru dari AS pada 2014, yang lebih canggih. Namun, dari segi harga lebih hemat jika kita menerima hibah dua skuadron F-16 tersebut," katanya.

Dari sisi teknologi, lanjut Panglima TNI, ke-24 unit pesawat hibah itu dapat di-upgrade disesuaikan dengan teknologi terbaru setara dengan F-16 varian terbaru yakni F-16 C/D Block 52.

"Sistem avioniknya kita up-grade, termasuk sistem persenjataannya, maka pesawat F-16 yang dihibahkan itu masih sangat `mumpuni` sebagai persenjataan yang memberikan efek tangkal," katanya.

Bahkan, masa pakai pesawat F-16 yang dihibahkan itu masih bisa mencapai 20 hingga 25 tahun lagi. "Jadi, lebih efektif dan efisien kita menerima hibah itu, daripada membeli enam pesawat sejenis yang baru," katanya.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan, pihaknya berharap dengan hibah itu, TNI segera dapat memenuhi skuadron tempurnya secara maksimal.

Sumber: ANTARA News

Hibah F16 Menguntungkan


(Foto: Lanud Iswajudi)

28 Januari 2011, Jakarta -- (Koran Jakarta): Rencana hibah 24 pesawat F16 dari Amerika Serikat (AS) lebih menguntungkan dibandingkan dengan membeli enam pesawat F16 baru yang saat ini dianggarkan Kementerian Pertahanan. Pesawat F16 yang akan dihibahkan Amerika Serikat itu hanya perlu diretrofi t (diremajakan) dengan biaya lebih murah daripada membeli enam buah pesawat F16 baru. “Biaya retrofi t F16 dari hasil hibah hanya 10 juta dollar AS per unit.

Sedangkan untuk membeli F16 jenis baru mencapai 60 juta dollar AS per unit,” kata Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal Imam Sufaat saat menjelaskan pertanyaan beberapa anggota Komisi I terkait rencana hibah F16 dari AS dalam rapat dengar pendapat antara Komisi I dan Menteri Pertahanan dan Panglima TNI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/1).

Setidaknya, ada enam anggota Komisi I yang mempertanyakan kejelasan rencana hibah ini. Mereka adalah Yah ya Sacawirya dan Salim Mengga (Fraksi Demokrat), HM Gamari dan Mohammad Syahfan B Sampurno (PKS), Teguh Juwarno (PAN), dan Tubagus Hasanuddin (PDIP). Yahya dan Salim khawatir rencana hibah pesawat ini justru akan membelenggu kebebasan TNI dalam merealisasikan program pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) ke depan.

“Sejauh mana program hibah tersebut menguntungkan Indonesia. Jangan sampai seperti hibah dari Jerman Timur,” kata Yahya. Salim mewanti-wanti agar jangan sampai F16 itu hanya barang bekas yang justru membebani TNI AU. “Jika pesawat tempur jenis lain seperti Sukhoi lebih bagus, walaupun jumlahnya sedikit, lebih baik membeli Sukhoi. Jika kualitasnya bagus, akan jauh lebih mengerikan daripada memiliki tiga skuadron F16,” kata Salim.

Menanggapi kekhawatiran para anggota Komisi I, Kasau meyakinkan bahwa tidak ada sesuatu di balik kebaikhatian AS ini. Rencana hibah tersebut semata- mata karena Amerika kedatangan pesawat tempur jenis F22. Dari segi jam terbang, F16 ini juga masih memiliki jam terbang lama. Rata-rata pesawat tersebut baru terbang selama empat sampai lima ribu jam terbang.

“Masih bisa digunakan antara 20 hingga 25 tahun jika jam terbang per tahunnya antara 200 hingga 300 jam,” jelas Imam. Menteri Purnomo Yusgiantoro menegaskan akan mengikuti kepentingan pengguna, dalam hal ini TNI AU, untuk pengadaan pesawat. “Selama dalam koridor pemenuhan kebutuhan kekuatan pokok minimal, pasti akan kami dukung,” katanya.

Sumber: Koran Jakarta

Menhan : F-16 TNI AU Akan Diupgrade Block 32


0
Jakarta, 28/1/2011 (Kominfo-Newsroom) Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan keputusan untuk menerima hibah pesawat tempur F16 dari Amerika belum final namun demikian pemerintah masih melakukan pertimbangan yang tepat terutama pengalokasian anggaran antara beli dan hibah.

“Kita memang memerlukan pesawat ini, karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Apalagi seluruh wilayah nusantara memang kesulitan,” katanya di Jakarta, Kamis (27/1).

Menurut Purnomo, kesiapan pengamanan udara seluruh nusantara, di bawah 30 pesawat tempur perharinya. Perhitungan ideal untuk Indonesia diperlukan 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron. “Singapura dengan wilayah yang tidak begitu besar memiliki F16 tiga skuadron. Australia punya 80 pesawat F18,” katanya.

Purnomo mengatakan bahwa pengalaman perang Trikora, yang dapat menggetarkan itu karena kekuatan laut dan udara kuat. “Kita berencana membeli 6 pesawat F16 (@60 juta dollar). Jika kita alokasikan untuk meretrofit 24 pesawat hibah, maka akan masih menguntungkan,” katanya.

Menhan lebih lanjut menjelaskan, alasan Amerika menawarkan hibah F16 kepada Indonesia karena pesawat tersebut termasuk dalam pesawat dikonservir dalam mengurangi anggaran pertahanan Amerika Serikat dan bersamaan dengan kedatangan pesawat F22.

“Pesawat F16 yang ditawarkan AS masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, Kasau Marsekal TNI Iman Sufaat menjelaskan awalnya dari surat TNI AU 2009. Dijawab pada 2010 bersamaan dengan kunjungan Kasau ke Kasau Amerika mengungkapkan Thailand pernah mendapatkan 30 unit F16. Hibah ini gratis. Namun Block 15 dan block 25 perlu diupgrade lagi karena avioniknya sudah tua.

“Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar. Barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F16,” kata Kasau.

Imam mengatakan, anggaran 6 pesawat block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil 24 pesawat F16. Jika di upgrade ke block 32 akan lebih baik dari block 52. “Yang Program F16 tidak mengambil anggaran Sukhoi,” ujarnya.

Dia menambahkan pesawat tempur F5 juga akan tetap diganti. Sukhoi pun yang enam belum ada alokasinya. “F16 yang kita punya pun akan diupgrade ke block 32. Untuk biaya pemeliharaan. Satu jam terbang hanya 70 juta. Sedangkan Sukhoi 500 juta dan peralatannya cukup rumit,” ungkapnya.

Menurut dia Retrofit satu tahun 8 pesawat. Akan sangat menguntungkan dan mempercepat pemenuhan MEF. Untuk Sukhoi ada anggaran 84 juta dollar.

Sumber: KOMINFO